Sunday, January 25, 2015

Potret Pendidikan Daerah Terpencil


Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan utama yang wajib dilaksanakan oleh setiap manusia dimulai dari jenjang dasar, menengah hingga yang tertinggi. Di Indonesia sendiri memang sudah diwajibkan pemerintah untuk wajib pendidikan 12 tahun, namun tidak ada arti juga jika mutu pendidikan dan fasilitasnya masih rendah atau adanya perbedaan. Kondisi geografis pun menjadi salah satu faktor penyebab yang menjadikan sebagian daerah di Indonesia tertinggal oleh laju pembangunan dan belum tersentuh pendidikan secara layak. Pendidikan adalah jalan terbaik meningkatkan taraf kehidupan sebuah generasi. Tak terkecuali di Indonesia. Namun apa yang dijumpai di pesisir ujung pantai timur Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, bisa jadi cermin kondisi pendidikan di banyak daerah terpencil lainnya di tanah air.
Seperti yang dilansir dalam Liputan 6 Pagi SCTV, Sabtu (3/5/2014) memberitakan kondisi memprihatinkan Madrasah Ibtidaiyah (SD) Darul Ulum di pesisir pantai Desa Mawu, Kecamatan Ambalawi, Kabupaten Bima. Sekolah yang berdiri sejak 2007 hanya memiliki fisik bangunan semi permanen. Berdinding anyaman bambu dan berlantai tanah. Tanpa bantuan pemerintah, pendiri sekolah dan para guru tetap tegar hingga kini.
Bisa dibayangkan, seperti apa kondisi waktu belajar setiap hari. Di sisi lain, guru pun seakan hanya berbekal idealisme mereka sebagai pengajar, tanpa imbalan yang memadai sebagai pemberi ilmu bagi masa depan muridnya. Lain lagi dengan kondisi anak-anak usia sekolah di Desa Patambanua, Kecamatan Matangnga, Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Kondisi desa terpencil, memaksa setiap anak yang ingin mengenyam pendidikan dasar harus berjalan kaki lewati bukit dan hutan agar bisa sampai ke sekolah. Hal tersebut mengakibatnya banyak anak usia sekolah dasar yang putus sekolah atau malah tidak bersekolah sama sekali.
Hingga kini masalah ketersediaan sekolah bagi anak-anak di pedalaman Polewali Mandar, Sulawesi Barat, belum terselesaikan. Untuk mendirikan sekolah dasar, pemerintah terbentur persyaratan minimum jumlah murid yang harus 60 orang.
Proses belajar mengajar juga kerap terbentur oleh SDM yang ada. Hal ini menyusul kurangnya tenaga pendidik yang mau terjun ke dusun terpencil. Pekerjaan besar untuk mencerdaskan generasi masa depan bangsa.
Pendidikan yang tepat bagi penduduk terpencil adalah pendidikan yang fleksibel dengan mengikuti kekhasan adat istiadat mereka. Lebih tepat dikatakan sebagai pendidikan alternatif yang ranahnya bisa formal, informal ataupun nonformal. Metode yang diberikan juga metode yang tidak menghilangkan kebiasaan positif mereka yang berasal dari akar rumput dan adiluhung secara turun-temurun. Cara yang diberikan dalam pendidikan alternatif yang diberikan bagi masyarakat daerah terpencil adalah sentuhan yang tulus dan khas karena keikhlasan dalam mendidik masyarakat daerah terpencil adalah hal utama yang harus dimiliki oleh para pendidik yang akan terjun ke sana.
Selain adanya pendidik yang hebat, teknologi saat ini juga merupakan bagian terpenting yang tidak boleh diabaikan pemerintah, baik itu teknologi untuk komunikasi maupun untuk pendidikan. Tetapi teknologi tersebut juga harus dijaga penggunaannya agar tidak merusak moral, budaya dan adat istiadat sehingga tidak terjadi penyimpangan sosial.
Berbagai jenis teknologi informasi dan komunikasi yang tersedia dapat digunakan untuk pembelajaran jarak jauh dan mandiri terutama untuk daerah terpencil. Tujuannya agar mereka lebih mudah mengakses pendidikan umum atau formal yang layak seperti yang didapatkan oleh kebanyakan penduduk kota. Namun sampai saat ini masih belum nampak yang begitu mencolok dari pemerintah untuk merubah itu semua.




No comments:

Post a Comment